21 September 2026 09:00 WIB

Mengapa Mobil Bisa Terguling Setelah Menabrak Pembatas Jalan?

Sebuah taksi terguling setelah menabrak guardrail pembatas jalan di area sebelum Gerbang Tol Tebet 2, Jakarta Selatan, pada Selasa malam, 15 September 2026. Berdasarkan keterangan Kasat Patroli Jalan Raya Polda Metro Jaya, kendaraan tersebut datang dari arah barat dan diduga kehilangan kendali karena pengemudinya mengantuk. Mobil kemudian menabrak pembatas jalan dan terguling hingga keempat rodanya berada di atas. Pengemudi selamat dan tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kejadian tersebut.

Kejadian tersebut menunjukkan bahwa benturan dengan pembatas jalan tidak selalu membuat kendaraan berhenti begitu saja. Dalam kondisi tertentu, interaksi antara kendaraan, roda, permukaan jalan dan pembatas dapat menghasilkan gerakan yang membuat mobil kehilangan kestabilan hingga terguling. Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR juga mencatat bahwa ketika kendaraan keluar dari jalan dan berhadapan dengan roadside hazard, kendaraan dapat terlempar, terguling atau berhenti mendadak.

Mengapa kondisi tersebut bisa terjadi? Ada beberapa mekanisme teknis yang menjelaskan bagaimana benturan dengan pembatas dapat berujung pada kendaraan terguling:

1. Roda Bisa Menjadi Titik Awal Mobil Terangkat
Ketika roda menghantam bagian jalan yang lebih tinggi, seperti curb atau permukaan yang meninggi di depan pembatas, kendaraan tidak selalu langsung berhenti. Ban dapat naik ke permukaan tersebut sehingga sebagian energi gerak kendaraan berubah menjadi gerakan ke atas. Federal Highway Administration (FHWA) menyebut mekanisme ini sebagai vaulting, yaitu kondisi ketika roda menghantam curb atau raised edge di depan pembatas sehingga kendaraan dapat terangkat dari permukaan jalan. FHWA juga mendefinisikan vaulting sebagai kondisi ketika kendaraan terlontar ke udara setelah menghantam fitur di sisi jalan.

Temukan promo dan penawaran menarik Hyundai untuk Anda di hyundaimobil.co.id/promo.

2. Bagian Bawah Mobil Bisa Tersangkut
Mekanisme lain dikenal sebagai snagging, ketika roda atau bagian bawah kendaraan menangkap atau tersangkut pada objek tetap saat terjadi benturan. Hal ini dapat membuat kendaraan mengalami perlambatan atau perubahan arah secara tiba-tiba. Dalam situasi tertentu, perubahan gerak tersebut dapat memicu kendaraan untuk berputar atau terguling. FHWA menjelaskan bahwa snagging merupakan interaksi yang tidak diinginkan antara komponen kendaraan dengan permukaan atau bagian pembatas dan dapat menyebabkan kendaraan mengalami perlambatan mendadak, berputar atau rollover.

3. Sudut Benturan Ikut Menentukan
Respons kendaraan terhadap pembatas juga dipengaruhi oleh sudut dan arah ketika benturan terjadi. Mobil yang menghantam pembatas secara lurus dapat memberikan respons berbeda dibandingkan kendaraan yang datang dalam posisi miring atau sudah bergerak menyilang. Kondisi permukaan jalan di sekitar pembatas, seperti curb, parit, kemiringan permukaan atau perbedaan ketinggian, juga dapat memengaruhi gerakan kendaraan setelah benturan. Orientasi kendaraan dan kondisi saat benturan menjadi bagian penting dalam memahami respons kendaraan terhadap sistem pembatas.

4. Jenis Kendaraan Berpengaruh
Karakteristik kendaraan juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan. Penelitian terhadap 955 kasus tabrakan kendaraan dengan pembatas berdasarkan data kecelakaan selama 11 tahun menemukan bahwa tipe kendaraan dan kondisi kendaraan sebelum benturan berhubungan dengan risiko rollover. Dalam penelitian tersebut, SUV memiliki risiko rollover yang lebih tinggi dibandingkan mobil penumpang pada kasus yang dianalisis. Namun, angka tersebut merupakan hasil penelitian berbasis data kecelakaan di Amerika Serikat dan bukan statistik kecelakaan Indonesia. Studi tersebut menganalisis 955 kasus benturan dengan pembatas yang mewakili lebih dari 450.000 kejadian benturan setelah pembobotan data, dan menemukan risiko rollover SUV sekitar delapan kali mobil penumpang dalam model regresi yang digunakan.

5. Pembatas Bukan Satu-Satunya Faktor
Karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa mobil terguling semata-mata karena menabrak pembatas. Pembatas, sudut benturan, arah gerak kendaraan, kondisi permukaan jalan, karakteristik kendaraan serta kondisi kendaraan sebelum benturan dapat saling memengaruhi. Bahkan sistem pembatas yang dirancang untuk keselamatan tetap memiliki batas kemampuan ketika menghadapi kondisi kecelakaan yang berbeda-beda. Penelitian terhadap kecelakaan nyata juga menemukan bahwa tipe kendaraan dan apakah kendaraan masih bergerak mengikuti arah roda sebelum benturan merupakan faktor penting dalam risiko rollover.

Dalam konteks Indonesia, panduan teknis Bina Marga mengenai roadside hazard menempatkan objek tetap dan kondisi sisi jalan sebagai bagian dari aspek yang perlu diperhatikan untuk mengurangi konsekuensi ketika kendaraan keluar jalur. Keberadaan pembatas memang merupakan bagian dari sistem keselamatan jalan, tetapi respons kendaraan ketika terjadi benturan tetap bergantung pada kondisi kecelakaan yang sebenarnya. Bina Marga menjelaskan bahwa ketika pengemudi kehilangan kendali dan kendaraan keluar dari jalan, tabrakan dengan objek tetap atau objek yang tidak dapat dilintasi dapat menyebabkan kendaraan terlempar, terguling atau berhenti mendadak.

Kejadian taksi di dekat GT Tebet 2 menjadi contoh bahwa kendaraan yang kehilangan kendali dapat mengalami konsekuensi berbeda setelah menghantam pembatas. Pengemudi yang mulai kehilangan konsentrasi, terutama karena mengantuk, sebaiknya tidak memaksakan perjalanan. Jika kondisi tubuh sudah tidak mendukung, berhenti dan beristirahat lebih aman daripada melanjutkan perjalanan dalam kondisi konsentrasi menurun. 

Sebelum melakukan perjalanan jauh, pastikan kondisi kendaraan dalam keadaan baik. Anda dapat menjadwalkan pemeriksaan dan servis kendaraan melalui Booking Service Hyundai Mobil Indonesia di hyundaimobil.co.id/booking-service