27 March 2026 06:00 WIB

Kenapa Orang Cenderung Mengemudi Lebih Agresif Saat Lapar?

Ada satu momen yang sering terjadi di jalan tetapi jarang disadari penyebabnya. Hyundai Lovers sedang berkendara, lalu lintas terasa lebih menjengkelkan dari biasanya, kendaraan di depan terlihat terlalu lambat, dan kesabaran terasa menipis. Ternyata penyebabnya bisa sesederhana, yaitu perut kosong. Ketika kondisi tubuh bertemu situasi jalan, emosi bisa ikut tersulut.

Psikologi modern bahkan memiliki istilah untuk kondisi ini yaitu “hangry, gabungan kata hungry (lapar) dan angry (marah). Ketika tubuh kekurangan energi, otak mengalami perubahan biologis yang dapat memengaruhi emosi, kemampuan mengambil keputusan, hingga cara seseorang bereaksi terhadap situasi di jalan. Sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa rasa lapar memang dapat meningkatkan iritabilitas dan kecenderungan agresif dalam aktivitas sehari-hari, termasuk saat berkendara.

Berikut 5 penyebabnya:

1. Penurunan Gula Darah Mengganggu Kontrol Emosi
Saat seseorang lapar, kadar glukosa darah akan menurun, padahal glukosa merupakan sumber energi utama bagi otak, terutama bagian prefrontal cortex yang berperan dalam mengontrol emosi dan pengambilan keputusan.

Penelitian oleh Brad J. Bushman dari Ohio State University yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (2014) menunjukkan bahwa kadar gula darah rendah berkaitan dengan menurunnya kontrol diri dan meningkatnya perilaku agresif. Artinya, ketika energi otak menurun, kemampuan seseorang menahan emosi juga ikut melemah. Hal ini membuat reaksi terhadap situasi menjengkelkan, termasuk di jalan, menjadi lebih impulsif.

2. Lapar Memicu Emosi Negatif Secara Psikologis
Studi lain yang dipublikasikan pada 2022 dalam jurnal PLOS ONE oleh peneliti dari Anglia Ruskin University menemukan hubungan kuat antara rasa lapar dengan kemarahan, iritabilitas, dan suasana hati negatif. Dalam konteks berkendara, kondisi emosional seperti ini dapat membuat pengemudi lebih mudah merasa terganggu oleh situasi lalu lintas.

Penelitian yang dipimpin oleh Viren Swami ini melibatkan lebih dari 60 partisipan yang diminta melaporkan tingkat lapar dan emosi mereka beberapa kali setiap hari selama tiga minggu. Hasilnya menunjukkan bahwa ketika seseorang merasa lebih lapar, mereka juga melaporkan tingkat kemarahan dan iritabilitas yang lebih tinggi.

3. Tubuh Mengeluarkan Hormon Stres
Ketika tubuh kekurangan energi, sistem biologis merespons dengan meningkatkan pelepasan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Tujuannya adalah meningkatkan kewaspadaan agar tubuh lebih siap mencari makanan.

Namun peningkatan hormon stres juga dapat membuat seseorang menjadi lebih tegang, lebih sensitif terhadap gangguan, dan lebih impulsif dalam bereaksi. Dalam lingkungan lalu lintas yang padat dan penuh stimulus, kondisi ini bisa membuat reaksi pengemudi menjadi lebih agresif dibandingkan biasanya.

4. Konsentrasi dan Penilaian Situasi Menurun
Selain emosi, lapar juga memengaruhi fungsi kognitif, termasuk perhatian dan kemampuan menilai situasi secara rasional. Penelitian dari University of Cambridge mengenai metabolisme otak menunjukkan bahwa kekurangan glukosa dapat menurunkan performa kognitif dan kemampuan pengambilan keputusan.

Ketika kemampuan ini menurun, seseorang bisa lebih mudah salah menafsirkan tindakan pengendara lain di jalan. Misalnya, manuver kendaraan lain dianggap sebagai tindakan sengaja menghalangi, padahal sebenarnya tidak. Kesalahan interpretasi ini sering menjadi pemicu konflik kecil di jalan.

5. Studi Keselamatan Berkendara Juga Menunjukkan Risiko
Penelitian mengenai perilaku pengemudi saat berpuasa juga memberikan gambaran yang menarik. Beberapa studi keselamatan lalu lintas menemukan bahwa kondisi tubuh yang lapar atau kelelahan dapat meningkatkan risiko kecelakaan, terutama pada jam-jam sibuk ketika konsentrasi pengemudi menurun. Artinya, faktor fisiologis sederhana seperti makan sebelum berkendara dapat membantu menjaga fokus dan stabilitas emosi saat menghadapi kondisi lalu lintas yang menantang.

Walaupun penyebab utama berasal dari kondisi tubuh, lingkungan berkendara juga berperan dalam mengurangi tekanan mental pengemudi. Beberapa kendaraan yang dipasarkan oleh PT Hyundai Mobil Indonesia dirancang untuk memberikan pengalaman berkendara yang lebih nyaman melalui kabin yang tenang, ruang lega, serta teknologi bantuan pengemudi.

Beberapa contohnya antara lain:
- Hyundai STARGAZER dengan kabin luas dan konfigurasi keluarga yang nyaman untuk perjalanan sehari-hari.
- Hyundai CRETA yang dilengkapi berbagai fitur keselamatan aktif untuk membantu pengemudi tetap fokus di lalu lintas perkotaan.
- Hyundai IONIQ 5 yang menawarkan pengalaman berkendara senyap khas mobil listrik sehingga kabin terasa lebih relaks.
- Hyundai STARIA dengan ruang kabin sangat lega untuk perjalanan jarak jauh bersama keluarga.

Kabin yang nyaman dan teknologi bantuan berkendara memang tidak menghilangkan rasa lapar, tetapi dapat membantu mengurangi tekanan mental saat berada di jalan. Hal ini penting menjadi perhatian utama saat mengambil keputusan membeli mobil.

Jika ingin mengetahui lebih jauh tentang fitur kenyamanan, teknologi keselamatan, atau model kendaraan Hyundai yang sesuai dengan kebutuhan perjalanan Anda, informasi tersebut juga bisa diakses melalui Hyundai DITA di hyundaimobil.co.id/hyundai-dita yang tersedia di situs resmi PT Hyundai Mobil Indonesia.

Melalui layanan ini, pengunjung dapat menanyakan berbagai hal mulai dari spesifikasi kendaraan, fitur teknologi, hingga informasi pembelian secara lebih praktis sebelum memutuskan mobil yang tepat untuk menemani perjalanan.